Senin, 26 September 2016

Durabilitas Beton

Hello Bloggers setia.. Saya Michael Agung Sanjaya Siagian (15515003). Sekarang saya sedang duduk di bangku perkuliahan dengan jurusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung. Postingan berikut ini adalah bagian dari salah satu mata kuliah teknik kelautan yang sedang saya ambil sekarang yaitu “Bahan Bangunan Laut” dengan dosen yang mengajar ialah Alamsyah Kurniawan.

Untuk postingan kali ini, tentunya sejalan dengan postingan – postingan saya yang sebelumnya yaitu seputar material beton. Namun untuk postingan kali ini, akan dibahas adalah durabilitas beton itu sendiri. Check it out...

Capaian :
  • ·       Terminologi Durabilitas
  • ·        Zona – zona dalam lingkungan laut
  • ·        Zona Lingkungan Laut dan Jenis Eksposure
  • ·        Proses-proses fisika dan kimia penyebab kerusakan elemen beton di lingkungan laut
  • ·        Tahapan kerusakan beton
  • ·        Kerusakan Beton Akibat Penyebab Fisik
  • ·        Diagram penyebab kerusakan beton akibat faktor-faktor fisik
  • ·        Benturan/Beban impact
  • ·        Kerusakan akibat abrasi-kavitasi
  • ·        Faktor fisik penyebab keretakan beton
  • ·        Keretakan pada beton segar dan beton yang mengeras
  • ·        Crazing
  • ·        Plastic shrinkage cracking
  • ·        Drying shrinkage
  • ·        Thermal shrinkage
  • ·        Beban Siklis
  • ·        Kebakaran

Durabilitas adalah ketahanan beton dalam menghadapi serangan – serangan yang merusak yaitu : akibat factor – factor fisik ataupun factor – factor kimiawi. Semakin tinggi durabilitas sebuah beton, maka semakin rendah tingkat kerusakan yang mungkin terjadi.

Zona – zona dalam lingkungan laut :
  • ·         Zona atmosfir laut
Korosi sangat dipengaruhi oleh jumlah garam yang terbawa angina dan mengendap pada permukaan struktur. Zona ini sangat rentan terhadap keretakan karena proses pembekuan – pencairan dan perubahan suhu. Laju korosi dapat berkurang jika frekuensi hujan tinggi.
  • ·         Zona terpercik (Splash-zone)
Zona dimana akan selalu dibasahi oleh percikan air laut. Zona ini sangat rentam terhadap keretakan yang disebabkan oleh karena abrasi, erosi, benturan, reaksi kimia antara ion –ion agresif (Terkandung dalam air laut). Merupakan zona yang paling agresif terhadap baja tulangan atau korosi pada baja.
  • ·         Zona pasang – surut (Tidal-zone)
Adalah zona diantara pasang surut terendah dengan pasang naik air laut. Pada zona ini terdapat endapan garam yang tertnggal, organisme laut sebagai akibat dari korosi pada baja setempat. Zona ini sangat rentan terhadap keretakan oleh akibat abrasi, erosi, benturan  serta reaksi kimia.
  • ·         Zona terendam (Submerged-zone)

Kerusakan terutama akibat reaksi kimia antara ion ion agresif. Aktivitas biologi maksimum. Kandungan sulfina dan ammonia dalam mempercepat korosi baja.
Kerusakan beton di lingkungan laut ada 2 yaitu :
1.      Faktor – factor Fisik
2.      Faktor – factor Kimiawi

                                                           
Benturan / Beban / Impact
Beban impact : Beban yang dating tiba – tiba dan mempunyai kecepatan tinggi. Beton dikatakan memiliki ketahanan Impact yang baik jika beton tersebut mampu menahan dan menyerap energy benturan yang terjadi.

Abrasi
Abrasi : Adalah ausnya permukaan beton yang disebabkan oleh hantaman gelombang yang mengandung pasir, kerikil atau benda padat lainnya.

Erosi
Erosi menyebabkan kerusakan permukaan beton dikarenakan air, angin, hujan dan proses mekanik lainnya sehingga permukaannya menjadi aus.
              Nb : Ketahanan terhadap erosi dan abrasi amat dipengaruhi oleh kualitas beton, properti/kualitas dari permukaan beton dan kekuatan & kekerasan agregat kasar.

Kavitasi


Kavitasi : Kerusakan permukaan beton karena hantaman air berkecepatan tinggi yang memiliki gelembung udara dan kemudian pecah pada saat membentur permukaan beton. Kavitasi sangat dipegaruhi oleh : Kualitas beton, Lekatan antara agregat kasar dan pasta semen, Ukuran maksimum agregat kasar.

Faktor Fisik Penyebab Keretakan Beton
·         Penyebab fisik : Perubahan volume ; Pembebanan ; Terekspos pada suhu yang ekstrim
·         Umumnya keretakan-keretakan yang dijumpai pada suatu struktur beton merupakan kombinasi dari satu atau lebih mekanisme penyebabnya.

Crack pada beton segar dan beton yang mengeras

Pada beton segar :
  • ·         Plastic shrinkage


Ketika air yang menguap dari permukaan beton yang baru dicor Lebih cepat dari air yang dihasilkan dalam proses bleeding, maka permukaan beton akan menyusut. Karena adanya restrain dari beton Dibawah lapisan permukaan yang mengering, timbul tegangan tarik pada beton yang masih lemah dan baru mulai mengeras, hal ini mengakibatkan retak-retak dangkal dengan berbagai variasi kedalaman. Kadang lebar retak-retak dipermukaan beton cukup besar.

  • ·         Crazing

Adalah pola dari retak-retak halus yang tidak menembus jauh kebawah permukaan dan umumnya hanya merupakan masalah kosmetik. Retak-retak ini biasanya hampir tidak tampak kecuali ketika permukaan beton baru saja mengering setelah dibasahi.

Pada Beton yang mengeras :
  • ·         Drying shrinkage
Karena hampir semua beton mempunyai campuran air lebih besar dari yang dibutuhkan untuk proses hidrasi, air yang tersisa itu akan menguap, mengakibatkan beton menyusut. Restrain terhadap susut oleh tulangan atau bagian lain struktur menyebabkan timbulny tegangan tarik pada beton yang mengeras. Restrain terhadap drying shrinkage adalah penyebab retak yang paling umum pada beton. Pada kebanyakan aplikasi, drying shrinkage tidak bisa dihindari.



  • ·         Thermal shrinkage
Kenaikan temperatur diakibatkan oleh panas yang dibebaskan pada proses hidrasi.
Ketika interior beton mengalami kenaikan temperature dan mengembang, permukaan beton mungkin sedang mengalami pendinginan. Jika perbedaan temperatur ini terlalu jauh, maka akan timbul tegangan tarik yang akan mengakibatkan thermal shrinkage pada permukaan beton. Lebar dan kedalaman retak tergantung pada perbedaan temperatur serta karakteristik fisik beton dan tulangan.
Stress yang diakibatkan oleh kristalisasi garam pada beton yang permeable dapat menyebabkan retak-retak dan spalling.

  • ·        Kristalisasi garam
  • ·         Beban siklis sering dijumpai pada struktur-struktur a.l. struktur lepas pantai (akibat angin, arus dan gelombang), jembatan, dermaga. Ketahanan beton terhadap beban siklis disebut ketahanan fatigue dan amat dipengaruhi oleh karakteristik lekatan antara agregat dengan pasta semen pada zona transisinya. Semakin kecil ukuran maksimum agregat semakin tinggi ketahanan fatigue-nya. Kebakaran, Pembekuan dan pencairan.

  • ·         Kebakaran
Pengaruh kebakaran pada beton bertulang tergantung dari tinggi temperaturnya dan lama terjadinya. Pengaruh kebakaran terhadap kekuatan komponen beton bertulang adalah menurunnya kuat tekan beton, menurunnya modulus elastisitas, menurunnya kuat lekat baja-beton, serta ekspansi longitudinal dan radial tulangan. Pembetukan retak akibat kebakaran diawali pada sambungan-sambungan dan bagian-bagian beton yang kurang kompak (padat).


Faktor Kimiawi penyebab retaknya beton bertulang

Korosi Tulangan Baja
Korosi dimulai ketika lapisan oksida pelindung tulangan telah rusak. Rusaknya lapisan pelindung ini disebabkan karena bereaksi dengan ion klorida yang terkandung dalam air laut pada permukaan tulangan atau karena karbonasi. Korosi tidak menyerang material beton, tetapi menyerang tulangan beton. Korosi yang disebabkan oleh ion klorida dapat mengakibatkan berkurangnya luas penampang baja tulangan sebelum tandatanda kerusakan akibat korosi terlihat pada permukaan beton. Korosi disebabkan oleh karena penetrasi ion klorida merupakan ancaman terbesar diakibatkan karena rusaknya selimut pelindung betonnya oleh air laut yang mengandung ion klorida yang sangat agresif.
Beton bersifat basa karena mengandung ion hidroksil (OH-), kondisi ini menguntungkan untuk tulangan beton, karena ion hidroksil yang terkandung pada air pori beton tsb dapat bereaksi dengan tulangan baja membentuk lapisan pelindung pasif atau pasif film pada permukaan tulangan. Lapisan pasif ini sebagai pelindung tulangan baja dengan cara menghalangi kontak antara tulangan dengan air dan oksigen yang merupakan syarat awal terjadinya korosi.

2 Proses yang bisa menghancurkan lapisan pasif :

  • ·         Reaksi karbon dioksida dengan ion hidroksil pada beton, Karbonasi
  • ·         Penetrasi ion klorida ke dalam beton.
Masalah akibat korosi

Serangan Karbon dioksida

Sulphate and chloride attack

Concrete Spalling

Concrete Spalling


Mekanisme Korosi pada baja Tulangan
Korosi dari baja tulangan pada beton adalah proses elektrokimia, sel elektrokimia terbentuk ketika terdapat perbedaan potensial sepanjang tulangan beton. Proses elektro-kimia melibatkan pembentukan daerah anoda dan katoda di dua lokasi yang berbeda di sepanjang baja tulangan yang sama.

Karat yang terbentuk mengakibatkan peningkatan volume beton pada permukaan tulangan di daerah perbatasan tulangan dan beton. Dan jika peningkatan volume ini tidak diatasi maka akan terjadi retak – retak.


Karbonasi
Karbonasi : korosi pada beton bertulang akibat oleh gas karbon dioksida. Akrbon dioksida dalam air laut berasal dari penyerapannya di atmosfer atau dari pembusukan tanaman laut. Konsentrasi karbon dioksida di udara sebesar 0,03 % per volume, sudah cukup untuk menimbulkan serangan pada beton, sedang kandungan CO2 di udara pada kota-kota besar umumnya mencapai 0,3%.
Hidrat semen yang diserang adalah Ca(OH)2, produk reaksinya adalah kalsium  karbonat (CaCO3). Ketika kandungan Ca(OH)2 hampir habis, CO2 akan bereaksi dengan hidrat kalsium silika (C-S-H) membentuk gel silika yang memiliki karakteristik pori-pori yang berukuran besar (> 100 nm). Kandungan karbon dioksida yang tinggi menyebabkan kalsium karbonat yang terbentuk pada reaksi awal akan bereaksi lagi membentuk kalsium bikarbonat.


Dan setelah kalsium hidrosidanya habis, karbon dioksida bereaksi dengan hidrat kalsium silica 9 (C-S-H) membentuk gel silica.


Kalsium hidrosida berubah yang awalnya basa menjadi asam karbonat, maka pH pori beton akan turunn mencapai nilai <9. pH yang rendah akan menyebabkan hancurnya lapisan pasif yang melindungi tulangan beton. Selain itu, terbentuknya lapisan karbonasi, yang akan membagi beton menjadi dua bagian, yaitu zona terkarbonasi dan tidak terkarboonasi. Ketika zona karbonasi mencapai permukaan tulangan, maka depasivasi tulangan mulai terjadi.
penetrasi karbon dioksida kedalam tulangan beton


Waktu yang dibutuhkan oleh proses karbonasi dari permukaan beton sampai mencapai lapisan pasif adalah fungsi dari:

  • ·         ketebalan selimut beton
  • ·         karakteristik beton
  • ·         laju difusi CO2 kedalam beton
Pengaruh perawatan (curing) beton terhadap karbonasi amat besar. Perawatan yang kurang tepat akan meningkatkan porositas beton yang selanjutnya akan meningkatkan laju karbonasi.

Semoga yang saya tulis dpat bergua bagi anda sekalian yang membacanya.
Selesai..., 


Senin, 12 September 2016

Material Beton 2

Hello Bloggers setia.. Saya Michael Agung Sanjaya Siagian (15515003). Sekarang saya sedang duduk di bangku perkuliahan dengan jurusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung. Postingan beriut ini adalah bagian dari salah satu mata kuliah teknik kelautan yang sedang saya ambil sekarang yaitu “Bahan Bangunan Laut” dengan dosen yang mengajar ialah Alamsyah Kurniawan.

Untuk postingan kali ini, tentunya sejalan dengan postingan – postingan saya yang sebelumnya yaitu seputar material beton. Namun untuk postingan kali ini, akan dibahan beberapa karakteristik penilaian bahan penyusun beton berdasarkan beberapa standar nasional dan internasional.


Capaian Pembelajaran :
  • ·         Jenis agregrat
  • ·         Kurva Gradasi
  • ·         Analisis Saringan Agregat Kasar
  • ·         Kurva Gradasi Agregat Kasar
  • ·         Analisis Saringan Agregat Halus
  • ·         Kurva Gradasi Agregat Halus
  • ·         Modulus Kehalusan (fineness modulus)
  • ·         Contoh Data Hasil Analisa Saringan

·         Contoh perhitungan Modulus Kehalusan
  • ·         Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton
  • ·         Ukuran agregat maksimum
  • ·         Pengaruh ukuran maksimum agregat terhadap beton dengan jumlah kandungan semen yang berbeda
  • ·         Pengaruh kuat tekan dan jenis agregat terhadap ketahananan abrasi beton
  • ·         Sifat-sifat agregat beton
  • ·         Air Campuran Beton
  • ·         Admixture: Bahan Admixture untuk Beton, Mineral Admixture, Peningkatan kekuatan beton untuk beberapa variasi konsentrasi slag, Kegunaan admixture


Agregat

  • ·         Agregat dalam campuran beton berdasarkan ukurannya terdiri atas 2 jenis :

o   Agregat halus (pasir)
o   Agregat kasar (kerikil/batuan pecah)
  • ·         Agregat disebut Agregat kasar apabila memiliki ukuran lebih besar dari 4.75 mm (Standar ASTM) dan disebut agragat halus jika berukuran dibawah 4.75 mm
  • ·         Jenis – jenis agregat :

o   Berdasarkan sumbernya :
§  Alam : Kerikil dan pasir alami
§  Buatan : Bijih besi, terak tanur tinggi, fly ash
o   Berdasarkan beratnya :
§  Berat : berat volume beton > 2800 kg/m3
§  Normal : berat volume beton kisaran 2800 – 2500 kg/m3
§  Ringan : berat volume beton < 2000 kg/m3
o   Berdasarkan tekstur permukaannya :
§  Halus
§  Berbutir
§  Kasar
§  Berbentuk sarang lebah, dsb.
o   Berdasarkan bentuknya :
§  Bulat
§  Bersudut
§  Pipih
§  Pipih dan panjang, dsb.
Agregat kasar
·         Yang berasal dari alam, jenis batuan asalnya dibagi menjadi :
o   Batuan beku : Granit, Quartz-diorit, basalt, dll.
o   Batuan endapan : Dolomit, chert, batu kapur, dll.
o   Batuan metamorf : marmer, kuartsit, dll.
Kurva Gradasi
  • ·         Gradasi adalah distribusi dari ukuran agregat.

·        
  •        Dilakukan analisa saringan (sesuai standard) untuk mengetahui gradasi. Hasilnya biasanya disajikan secara grafis dalam kurva gradasi. (ASTM C 136-84a)
  •       Proses dalam pengujian analisa saringan :
  • ·         Sampel tanah yang didapat dari lapangan di oven dulu untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di sampel tanah tersebut.
  • ·         Setelah di oven, Sample tanah di timbang untuk mendapatkan massa mula – mulanya.

·         

  •       Sample tanah dimasukkan ke dalam saringan yang sudah disusun mulai dari saringan teratas dengan ukuran filter yang paling besar sampai terkecil.
  • ·         Susunan saringan di getar – getarkan dengan alat getar sampai seluruh ukuran partikel tanah terbagi ke dalam ukuran – ukurannya masing – masing.
  • ·         Disusunlah datanya dalam sebuah table.
  • ·         Data dalam table di plotkan menjadi sebuah kurva gradasi dengan data yang diplotkan adalah persentase lolosnya saja.

·         Variasi distribusi gradasi dibedakan menjadi 3 jenis :
o   Gradasi sela : salah satu/lebih ukuran butir pada satu set saringan tidak ada
o   Gradasi menerus : dalam satu set saringan agregat memiliki semua ukuran butiran dan terdistribusi dengan baik.
o  


Gradasi seragam : jika dalam satu set saringan, agregatnya mempunyai ukuran yang sama.

 
 



Modulus kehalusan (fineness modulus)

  • ·         Adalah indeks yang dipakai untuk mengukur kehalusan atau kekerasan agregat.

o   Jumlah persen kumulatif dari butir agregat yang tertinggal diatas satu set saringan.
o   Memberi indikasi kemungkinan perilaku campuran beton pada suatu gradasi tertentu.
o   Juga dipakai sebagai dasar untuk mencari perbandingan dari suatu campuran agregat.

Jadi, Modulus kehalusan agregat halus = 283/100 = 2.83
Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton.
  • ·         Ukuran agregat mempengaruhi kuat tekan beton.
  • ·         Untuk memperoleh campuran beton dan kualitas beton yang baik, maka gradasi agregatnya harus menerus.

o   Campuran beton terdiri dari variasi berbagai ukuran agregat.
o   Agregat harus terdistribusi dengan baik.
o   Sehingga terjadi interlocking yang baik.
  • ·         Kekuatan beton dipengaruhi oleh karakteristik lekatan agregat dengan mortar semen dan karakteeristik kandungan mineral agregat.
  • ·         Semakin tinggi nilai Mod. Elastisitas agregat, Semakin tinggi kekuatan betonnya
  • ·         Kekuatan agregat dipengaruhi oleh :

o   Lekatan antar partikel
o   Porositas agregat
o   Komposisi bahan pembentuknya.
o   Kekuatan beton pada umumnya lebih rendah dari kekuatan agregat pembenuknya.
  • ·         Beton mutu tinggi (> 60Mpa), keruntuhan biasanya terjadi karena kegagalan lekatan antara pasta semen dan agregat.
  • ·         Beton mutu tinggi harus menggunakan agregat yang memiliki karakteristik daya ukat yang kuat dengan mortar semen baik secara kimia maupun fisik.
  • ·         Kekuatan ikatan pasta semen dengan
  • ·         agregatnya pada zona transisi (Zona transisi (interface antara pasta semen dan agregat), adalah bagian yang terlemah dalam mortar, zona transisi strukturnya lebih berpori-pori dibandingkan dengan struktur pasta semen disekitarnya. )merupakan faktor utama yang menentukan daya tahan abrasi untuk beton pada daerah splashing.
  • ·         Terlepasnya ikatan antara agregat kasar dengan pasta semen merupakan kegagalan struktur yang umum terjadi pada daerah splashing.
  • ·         Ukuran, bentuk serta sifat-sifat fisik dan kimiawi agregat amat mempengaruhi karakteristik zona transisi termasuk pembentukan microcracking pada zona transisi, microcracking sendiri merupakan penyebab utama tingginya tingkat permeabilitas pada beton.


Ukuran Agregat Maksimum
  • ·         Semakin besar ukuran agregat semakin kecil kebutuhan airnya → meningkatkan kekuatan
  • ·         Untuk agregat > 38.1 mm, walaupun kekuatan meningkat tapi daerah lekatan berkurang, sehingga terjadi penurunan kekuatan
  • ·         Agregat > 40 mm → risiko segregasi
  • ·         Pembatasan struktural (ACI 318 dan PBI, 1989) → penulangan dan pemadatan




Pengaruh ukuran maksimum agregat terhadap beton dengan jumlah kandungan semen yang berbeda.       

Persyaratan agregat untuk campuran beton
  • ·         Tidak boleh bersifat reaktif
  • ·         Susunan gradasinya memenuhi persyaratan yang telah disepakati
  • ·         Tidak mengandung bahan – bahan yang berpengaruh buruk pada beton
  • ·         Kekerasan dan soundness agregat memenuhi syarat yang diterapkan

Agregat adalah bahan tambahan yang turut menjadi campuran beton. Agregat terdiri dari dua jenis berdasarkan ukuran, yaitu :
  • .      Agregat halus (pasir) dan
  •     Agregat kasar (kerikil/batuan pecah).

Menurut ASTM ( American System for Teting Material ), agregat kasar adalah agregat yang memiliki ukuran lebih besar dari 4,75 mm. Sedangakan agregat halus memiliki ukuran kecil sama dengan 4,75 mm.

Beberapa Standar yang dipakai dalam uji Agregat adalah
  • .       SNI = Standar Nasional Indonesia
  • .       ASTM = American System for Teting Material
  • .       AS = Australian Standart

Uji Agregat
Sifat – Sifat
Agregat
Keutamaan
Pengujian
Persyaratan
Gradasi (Distribusi ukuran)
Kelecakan dan ekonomis
Distribusi ukuran
partikel dengan
penyaringan kering
(SNI 03-1968-1990)
(ASTM C136-1992)
Agregat halus:
Memenuhi batas-batas
yang ditetapkan dan variasinya
tidak melebihi deviasi yang diijinkan.
(ASTM C33-90)
Agregat kasar:
Memenuhi batas-batas yang
ditetapkan dan variasinya tidak
melebihi deviasi yang diijinkan.
(ASTM C33-90)
Abrasi
Indeks mutu;
terutama untuk
platform bongkar
muat, perkerasan
SNI 03-2417-2008
(ASTM C131-1989)
Agregat Kasar ≤ 40%
(ASTM C33-90)
Soundness
(Kekekalan)
Kekuatan dan durabilitas
SNI 03-3407-2008)
(ASTM C88-1990)
Agregat Halus ≤ 10%
Agregat Kasar ≤ 12%
(ASTM C33-90)
Reaktifitas reaksi agregat alkali
Stabilitas kimiawi beton
Reaktifitas alkali
potensial dengan metode
mortar bar
(ASTM C227-1990)
Ekspansi prisma uji kurang
dari 0,13% pada umur 3
bulan atau 0,10% pada
umur 6 bulan (AS 2758.1)


Reaktifitas potensial
agregat (metoda kimia)
(ASTM C289-1987)
Masuk dalam batasan
Daerah yang tidak
berbahaya pada kurva
reduksi alkalinitas vs
silika larut (ASTM C289-
1987)
Reaktifitas kotoran dan material berbahaya
Pengerasan beton
Kotoran organik selain
dari gula ASTM C40-
92 (SNI 03-2816-1992)
Warna yang dihasilkan dari
pengujian tidak boleh terlalu
pekat dari warna standard
dari zat referensi (ASTM
C40-92)


Gula (AS 1141, section
35)
Jumlah gula dalam agregat
kurang dari 1 bagian dalam
10000 (100 ppm) (AS
2758.1)

Kecelakaan dan control air campuran
Material lebih halus
dari 75 µm
(Saringan No. 200)
dalam agregat
(dengan metoda
pencucian) ASTM
C117-90 (SNI 03-
4142-1996)
Agregat Kasar:
Kuantitas material halus kurang dari 75µm
tidak boleh lebih dari 1%.
Agregat Halus:
Kuantitas material halus kurang dari 75µm
tidak boleh lebih dari 5% (ASTM C33-90)

Kekuatan
Partikel ringan (AS
1141, section 31)
(SNI 03-3416-
1994) (ASTM C123-
1990)
Kecuali agregat ringan, material dengan
kerapatan partikel kurang dari 2000 kg/m3
tidak boleh melebihi 0,5% dari massa
dalam agregat kasar dan 1% dari massa
agregat halus
Reaktifitas garam – garam yang dapat larut
Stabilitas kimiawi beton

Agregat yang mengandung garam sulfida
atau sulfat dalam proporsi yang
menghasilkan kadar sulfat beton melebihi
5% dari masa semen portland tidak dapat
digunakan.
Agregat yang mengandung garam-garam
khlorida dalam proporsi yang menghasilkan
kadar khlorida total pada beton melebihi
0.4% dari masa semen tidak dapat
digunakan (AS 2758.1)

Air Campuran Beton
Air tidak memenuhi syarat sebagai air campuran beton, jika :
  • ·         Kekuatan tekan beton pada umur 7 dan 28 hari < 90% kekuatan beton yang menggunakan air standar. (BS 3148:1980)
  • ·         Perbedaan waktu pengikatan awal campuran beton > 30 menit dibanding waktu pengikatan awal beton yang menggunakan air standar. (BS 3148:1980)


Aspek
Komentar
Persyaratan Spesifikasi AS 1379
Solid dalam suspense
Jika kandungan solid dalam air melebihi 2000
ppm, disarankan untuk diadakan pengujian.
Total solid yang larut, dibatasi maksimum 3000mg/L
Bahan organic
Berpengaruh kurang baik pada kekuatan
Dapat mencegah setting (khususnya gula)
Rumput laut dalam air dapat menyebabkan kuat
tekan beton menurun secara signifikan.
Gula, dibataso maksimum 100mg/L
Garam – garam klorida yang larut
Dapat mempercepat waktu setting (waktu yang diperlukan
sejak pertama adukan beton ditambah air sampai
reaksi semen air mulai mengeras)
tapi mengurangi kekuatan jangka panjang
Merusak durabilitas jika digunakan pada beton bertulang dan beton
prategang
Khlorida (CL-), dibatasi maksimum 500
mg/L
Garam – garam sulfat yang larut
Biasanya tidak berpengaruh signifikan jika
konsentrasinya < 1000 ppm
Sulfat (SO3) dibatasi maksimum 800
mg/L
Alkali karbonat dan bikarbonat larut
Campuran sodium karbonat sampai 2000 ppm
masih aman. Pengujian disarankan jika kadar
alkali karbonat melebihi 1000 ppm.
Mempengaruhi waktu ikat dan kekuatan, dapat
memicu reaksi alkali agregat pada beton.
Sodium ekivalen, dibatasi maksimum 300
mg/L
Air asam
Air yang sedikit asam bukan merupakan suatu
masalah (semen bersifat alkalin tinggi yang
dapat menetralisir asam) tetapi material yang
menyebabkan keasaman dapat menjadi
masalah (contohnya sulfida, bahan-bahan
organic yang membusuk, dll.)
PH > 5.0
Sulfida (S) ≤ 100 mg/L

Slump-test adalah salah satu metoda yang dipakai dalam suatu uji untuk kekenyalan beton dalam kondisi basah.

Deskripsi workabilitas dan nilai slump

Slump yang disyaratkan untuk berbagai konstruksi (ACI)